Khalishah Isyana Persembahkan Sebuah Pertunjukan Resital Kelulusan Bertajuk ‘BACA NADA’

Event

FOTOSELEB.COM - Khalishah Isyana, yang akrab disapa Nana ini menambah deretan para musisi berbakat tanah air. Seperti diketahui Nana merupakan lulusan dari sekolah musik di Daya Indonesia Performing Arts Academy (DIPAA).

Setelah lima tahun (2014 – 2015) menempuh pendidikan di Daya Indonesia Performing Arts Academy (DIPAA), pada Kamis, 2 Mei 2019, bertempat di Gedung Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Nana bersama dengan ketiga temannya Aloysius Cahyo Pradanto, Cecillia Cati, dan Indra Bayu Rusady mempersembahkan sebuah pertunjukan resital kelulusan bertajuk ‘BACA NADA’.

Nana, membawakan empat lagu antara lain “Partita No. 2 in C Minor ‘Capriccio’ “ – J.S. Bach di mana Nana akan memainkan piano. Ia juga akan menyanyi dalam lagu ‘My Foolish Heart’ – Victor Young & Ned Washington. Berdasarkan aransinya sendiri yang dimainkan oleh Bigband, Nana akan menjadi konduktor pada lagu ‘Pipoca’ – Hermeto Pascoal. Dan karya terakhir yang akan dibawakannya pada malam resital adalah ‘Ambilkan Bulan Bu’ – A.T. Mahmud di mana Nana akan memainkan piano. Lagu tersebut dinyanyikan oleh adiknya, Kalya Vanessa Natania. Lagu terakhir ini Nana persembahkan khusus untuk ibundanya.

“Lagu itu memang pilihan dan  dipersembahkan untuk ibu aku,  jadi kalau dari lagu Bigband kan ada dua yang dibawain.  Ada lagu jazz dan kontemporer, yang satu lagi lagu anak atau lagu daerah. Jadi sebelum kelulusan ini ibu ingin saya bawain ‘Thanks for The Music’, cuma itu  pernah saya bawain beberapa bulan lalu. Trus aku mikir lagu ini,” kata Nana.

Setelah acara resital kelulusan ini, Nana tetap akan menggali keahliannya dalam bermusik dan tetap akan terus belajar. Bahkan kedepannya Nana sudah merencanakan sebuah karya dan melakukan rekaman di Budapest, Hungaria.

“Secara pendidikan gak semua orang melihat musik itu ilmu pengetahuan, padahal musik itu kayak matematika,  kayak fisika juga yang rumusnya segala macam. Jadi orang lebih menghargai musik dan lebih menghargai pekerjaan musisi tapi yang paling utama tidak melupakan identitas musiknya sendiri,” pungkas Nana.

Nana juga banyak mengerjakan berbagai produksi musik lintas disiplin seni dan berkolaborasi dengan banyak pelaku seni pada drama musikal di antaranya, Musikal Petualangan Sherina (2017 dan 2018 sebagai Music Director, Composer, Arranger, Orchestrator, & Conductor), Pak Pandir Sebuah Muzikal (2018,  Arranger & Orchestrator), dan Dongeng Pohon Impian (2019, Composer & Conductor).

Nana juga pernah menjadi penata musik untuk film pendek fiksi seperti Sebelum Tidur (2017), dan film dokumenter Kakao Kakek Lasah (2018), Mendengar dengan Tahmid (2018), Kita Makan Apa? (2019), Masakan Rumah (2019). 

Baru-baru ini ia juga menjadi penata musik untuk kampanye iklan #HentikanMinyakSawit (2018) dan #HutanTanpaApi (2019) yang bekerjasama dengan Greenpeace Indonesia. Kemampuannya sebagai pencipta lagu terus ia asah untuk dirinya sendiri maupun berkolaborasi dengan berbagai solois muda, antara lain lagu Punya Waktu (2018), Makna Hadirmu (2018), dan Mendengar Laut (2019).

Bahkan, di usianya yang baru menginjak 23 tahun, ia sudah menjadi nominator AMI Awards 2018 dalam kategori penata musik lagu anak-anak terbaik. Namun hal itu tak membuatnya merasa cepat puas. Justru setelah lulus dari DIPAA, Nana berencana untuk terus menyebarluaskan ilmu dan kreativitasnya dalam berkarya dengan membangun perusahaan rintisan di bidang kreatif agar dapat terus berkolaborasi dan menjadi manfaat untuk lebih banyak pihak dengan musik yang diciptakannya.


Foto Terkait